Selasa, 04 September 2018

Untuk yang memenangkan hatiku, kamu.

'Hai' sebuah pesan singkat yang kau kirimkan padaku waktu itu, pesan singkat yang akhirnya membawa kita pada sebuah hubungan. Hubungan tanpa kejelasan.
Kamu...sosok lelaki yang humoris, menawan, dan juga perhatian. Yang tanpa permisi telah membuat hatiku merasa nyaman. Yang berhasil menyita perhatian dan pikiranku. Yang dengan tega membuatku menunggu tanpa kejelasan. Kamu, iya kamu..
Aku selalu menanti kabarmu disetiap hariku. Aku selalu berharap, rasa jenuhmu pada kekasihmu kembali mengantarkanmu kepadaku,--barang sedetik saja. Meski semua itu tidak selalu terjadi seperti yang kuharapkan. Tapi percayalah, akulah wanita yang selalu menanti kepulanganmu. Sungguh!
Pagi tadi kau mendadak menelponku. Tanpa basa-basi, kau ingin bertemu denganku. Lalu seperti biasa, aku selalu mengiyakan setiap apapun yang kau minta. Tolong jangan tanya kenapa, Tuan! Sebab alasannya sederhana; aku ingin selalu ada untukmu.
Kita akhirnya bertemu di taman kompleks, tempat biasa kita bertemu. Tanpa malu-malu kau langsung memeluk tubuhku. Pelukmu sungguh menjadi candu untukku. Dan aroma parfummu adalah favoritku. Aku selalu menikmati saat bersamamu. Menatap mata indahmu yang seringkali hampir membuatku sulit bernafas. Mendengarkan ceritamu tentang segala kesibukanmu dan juga tentang.......kekasihmu.
Aku selalu ingin menjadi penenangmu saat masalah datang dan membuatmu ingin menyerah. Aku selalu ingin melukis senyuman dibibirmu. Aku selalu ingin tertawa bersamamu karena kekonyolan yang kau buat. Aku selalu ingin begitu, Tuan!
Tapi aku selalu sadar diri, bahwa aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Aku selalu sadar diri, bahwa aku hanyalah persinggahanmu.
Kau menggenggam erat tanganku, yang aku tau bahwa bukan hanya tanganku yang Kau genggam erat seperti ini. Kau peluk hangat tubuhku, yang aku tau bahwa bukan hanya tubuhku yang kau peluk hangat seperti ini. Kau membisikkan; aku mencintaimu, yang aku tau bahwa bukan hanya aku wanita yang kau cintai. Aku selalu tau itu, Tuan. Selalu.
Hari ini, kita kembali dipertemukan dengan rindu yang teramat menyesakkan dadaku. Entah bagimu. Haha tapi bagaimana mungkin kau merasakan rindu yang sama dengan diriku. Sedangkan kau milik orang lain. Semua orang tau itu. Dan aku? Aku hanyalah salah satu wanita dalam hidupmu. Aku menertawakan kebodohanku. Kebodohan yang mengantarkanku pada perasaan yang sulit untuk kuhindari. Kebodohan yang membuatku rela menanti kepulanganmu, Tuan.



Dari aku, wanita yang selalu bersedia ada untukmu.