'Hai' sebuah pesan singkat yang kau kirimkan padaku waktu itu, pesan singkat yang akhirnya membawa kita pada sebuah hubungan. Hubungan tanpa kejelasan.
Kamu...sosok lelaki yang humoris, menawan, dan juga perhatian. Yang tanpa permisi telah membuat hatiku merasa nyaman. Yang berhasil menyita perhatian dan pikiranku. Yang dengan tega membuatku menunggu tanpa kejelasan. Kamu, iya kamu..
Aku selalu menanti kabarmu disetiap hariku. Aku selalu berharap, rasa jenuhmu pada kekasihmu kembali mengantarkanmu kepadaku,--barang sedetik saja. Meski semua itu tidak selalu terjadi seperti yang kuharapkan. Tapi percayalah, akulah wanita yang selalu menanti kepulanganmu. Sungguh!
Pagi tadi kau mendadak menelponku. Tanpa basa-basi, kau ingin bertemu denganku. Lalu seperti biasa, aku selalu mengiyakan setiap apapun yang kau minta. Tolong jangan tanya kenapa, Tuan! Sebab alasannya sederhana; aku ingin selalu ada untukmu.
Kita akhirnya bertemu di taman kompleks, tempat biasa kita bertemu. Tanpa malu-malu kau langsung memeluk tubuhku. Pelukmu sungguh menjadi candu untukku. Dan aroma parfummu adalah favoritku. Aku selalu menikmati saat bersamamu. Menatap mata indahmu yang seringkali hampir membuatku sulit bernafas. Mendengarkan ceritamu tentang segala kesibukanmu dan juga tentang.......kekasihmu.
Aku selalu ingin menjadi penenangmu saat masalah datang dan membuatmu ingin menyerah. Aku selalu ingin melukis senyuman dibibirmu. Aku selalu ingin tertawa bersamamu karena kekonyolan yang kau buat. Aku selalu ingin begitu, Tuan!
Tapi aku selalu sadar diri, bahwa aku bukanlah siapa-siapa bagimu. Aku selalu sadar diri, bahwa aku hanyalah persinggahanmu.
Kau menggenggam erat tanganku, yang aku tau bahwa bukan hanya tanganku yang Kau genggam erat seperti ini. Kau peluk hangat tubuhku, yang aku tau bahwa bukan hanya tubuhku yang kau peluk hangat seperti ini. Kau membisikkan; aku mencintaimu, yang aku tau bahwa bukan hanya aku wanita yang kau cintai. Aku selalu tau itu, Tuan. Selalu.
Hari ini, kita kembali dipertemukan dengan rindu yang teramat menyesakkan dadaku. Entah bagimu. Haha tapi bagaimana mungkin kau merasakan rindu yang sama dengan diriku. Sedangkan kau milik orang lain. Semua orang tau itu. Dan aku? Aku hanyalah salah satu wanita dalam hidupmu. Aku menertawakan kebodohanku. Kebodohan yang mengantarkanku pada perasaan yang sulit untuk kuhindari. Kebodohan yang membuatku rela menanti kepulanganmu, Tuan.
Dari aku, wanita yang selalu bersedia ada untukmu.
NOVIANTI BAKRI
Mencintaimu; membuatku selalu ingin menulis, menulis, dan menulis.
Selasa, 04 September 2018
Senin, 06 Juni 2016
Kita, berteman saja
Aku memandangimu dari kejauhan. Tanpa sepengetahuanmu
dan tanpa sepengetahuan orang lain. Dua hari yang lalu, kau memutuskan untuk
mengakhiri semuanya. Termasuk dengan ketidakjelasan status kita. Kuakui, semua
memang salahku. Yang dengan berani tetap membiarkanmu menunggu tanpa kejelasan.
Tapi percayalah, semua yang kulakukan memiliki sebab dan kurasa tak perlu kuberitahukan
orang-orang tentang sebab itu, juga kepadamu.
Kau yang awalnya kukenal sebagai pria yang selalu semangat,
mendadak menjadi seorang pria yang selalu menggalau disetiap hari-harinya. Dan tentu
perubahan dirimu itu terjadi setelah kau berhasil jatuh cinta dengan seorang
wanita biasa.—Aku.
Tak ada yang perlu kubanggakan atas sikapku yang
nyatanya salah dimata orang-orang. Sebagian dari mereka menilaiku jahat. Iya,
dan tentu aku bisa memaklumi apa yang sebagian orang itu ucapkan. Dan jauh dilubuk
hatiku, tak pernah ada niat untuk mempermainkan perasaanmu. Ini semua sungguh
diluar dugaanku. Sungguh!
Pemikiranmu yang sangat jauh berbeda dari yang
kupikirkan membuat semuanya menjadi begitu rumit. Tentangmu yang selalu ingin
terburu-buru dalam hal memulai hubungan. Tentangmu yang tidak mau mengerti
pentingnya sebuah waktu dan sebuah proses. Kau memang begitu, selalu ingin
terburu-buru. Selalu! Tapi tak apa, tak ada yang perlu kusesali lagi. Tak perlu
kuceritakan tentang perasaanku kepadamu, aku takut nanti orang-orang akan
menilai diriku salah lagi jika mereka tahu bahwa aku mulai menyukaimu. Mereka mungkin
pasti akan menertawakanku jika aku jujur dengan perasaanku. Tapi sekali lagi,
semuanya masih butuh proses dan waktu. Biarlah kau pergi mencari yang lebih
baik dariku, dan tentu dia yang tak akan pernah membuatmu menunggu tanpa
kejelasan.
Dan bersama dengan perasaan bersalah ini, kuucapkan beribu
maaf untukmu. Maafkan segala sikapku yang mungkin dulu selalu membuatmu
merasa terabaikan. Semoga kau mau memaafkanku. Dan untuk selanjutnya, kita
berteman saja. Begitulah keputusan kita. Sebuah keputusan yang cukup bisa memberi
jalan keluar bagiku, dan mungkin juga bagimu.
Kini, mari saling
mengabaikan, hingga kita mulai terbiasa dan akhirnya saling terlupakan.
Semoga.
Untukmu, yang saat ini
berada diingatanku.
Bulan ini, tepat dua tahun setelah kita berpisah. Jenuh!
Iya, itu adalah salah satu alasanku untuk pergi dan memilih untuk mengakhiri
hubungan kita. Tanpa sepengetahuanmu, diam-diam hatiku telah merasakan
kejenuhan itu. Dan kejenuhan itu justru kurasakan disaat hatimu sedang berada
dititik teramat mencintaiku. Untuk hal itu, maafkan aku. Aku tak bermaksud
menyakitimu. Semua sungguh berada diluar dugaanku. Percayalah!
Kau ingat? Tentang segala rencana indah kita? Tentang
rencana kita yang akan selalu bersama-sama, sampai kapan pun. Kau masih ingat? Ah,
iya. Aku tahu, kau tak akan mungkin mengingatnya lagi. Hatimu sudah terlalu
kecewa dan benci dengan keputusanku yang memilih meninggalkanmu, dua tahun yang
lalu.
Pagi ini, tanpa sengaja aku mengingatmu lagi. Sungguh!
Dan sisa-sisa kenangan yang nyaris terlumpuhkan dalam ingatanku itu, datang
kembali menyapaku. Sekedar mengingatkan tentang hal-hal apa saja yang pernah
kita lalui bersama.
Beberapa bulan yang lalu, aku sudah berhasil untuk
melupakanmu. Bahkan dengan keberanianku, kuputuskan untuk tidak berhubungan
denganmu lagi baik dalam dunia nyata maupun via social media. Aku tahu, kau
akan bertanya mengapa aku melakukan itu, atau kau mungkin akan bertanya mengapa
aku menghapusmu dari friend listku disemua jenis social media. Dan jawabannya
adalah karena aku ingin benar-benar melupakanmu. Tak ada alasan lain selain
itu. Dan tolong, berhentilah membenciku. Bukankah, setiap masa lalu berhak
untuk menjauh dan pergi sesuka hatinya? Dan kuyakin, kau pun mengerti akan hal
itu. Sekali lagi, kau juga berhak melupakanku tanpa sedikit pun menyisakan rasa
benci dihatimu.
Bersama kenangan yang melelahkan ini, kudoakan agar
dirimu selalu baik-baik saja. Semoga yang terbaik untukmu akan segera menemuimu
dan menetap dalam hidupmu. Berbahagialah untuk dirimu disana. Aku hanya
mengingat segala tentangmu, tetapi tidak kurindukan apa-apa dari itu semua. Maafkan
untuk sikapku yang dulu terlalu sering mengecewakanmu hingga membuatmu
membenciku. Maafkan. Kini, kubiarkan hatiku kosong tanpa penjaga. Aku tak ingin
lagi terburu-buru dalam hal mencintai. Aku banyak belajar dari dirimu. Yang
berhasil membuatku jatuh cinta dengan singkat dan membuatku pula mengakhiri
dengan singkat. Begitulah.
Ini tulisanku yang ketiga tentangmu. Dan aku janji,
setelah ini, tak akan lagi kutulis tentangmu. Sungguh! Bukan karena aku turut
membencimu, tapi aku hanya ingin terbiasa untuk tidak mengingatmu lagi. Aku hanya
ingin membiarkan hati dan pikiranku kosong dari segala hal tentangmu. Aku ingin
terus belajar untuk melumpuhkanmu dari ingatanku. Semoga kau mau mengerti.—Semoga.
Walau Sekejap
Ada yang berbeda dengan dirimu hari ini. Entah apa. Pagi
tadi, aku melihatmu berjalan didepan kelasku. Dan kau hanya terdiam melihatku.
Tak menyapaku sedikit pun. Dan tak tersenyum sedikit pun. Tingkahmu
memang aneh! Sangat jauh berbeda dengan kamu yang selalu menyapaku melalui
pesan singkat di BBM.
Kau tahu? Akhir-akhir ini, aku sering memikirkanmu. Aku
sering membawa namamu dalam setiap doaku. Dan aku selalu berharap, semoga kita
selalu bertemu dikampus. Iya, akhir-akhir ini, aku memang merasa aneh dengan
diriku sendiri. Namun, dirimu tak kalah anehnya dengan diriku.
Aku mengenalmu, enam bulan yang lalu. Kau adalah pria yang
sangat pendiam dan acuh dengan segala yang ada disekitarmu. Termasuk denganku,
dengan gadis yang diam-diam mengagumimu. Aku bahkan sering mencuri
perhatianmu. Bertanya seolah aku tidak mengerti dengan cara pengerjaan soal
Bahasa Inggris, atau apapun yang bisa membuatmu melihatku dan menyita
waktumu.--Walau sekejap.
Kau tahu? Setiap malam aku selalu menunda tidurku hanya
untuk bisa mengobrol lebih lama denganmu. Kantuk yang kurasa bahkan tak mampu
membuatku menyerah dan tak mampu membuatku memilih untuk tidur. Semua kulakukan
demi dirimu, tuan! Semua demi kamu, seseorang yang akhirnya berhasil menyita
perhatiaanku. Kuharap kau tak membaca tulisanku ini. Aku takut, kau akan tahu
tentang perasaan dihatiku ini. Lalu, kau akan pergi menjauhiku. Aku takut!
Hari ini, kau terlihat berbeda. Tidak seperti hari-hari
kemarin. Saat dimana, pesan singkatmu berhasil membuatku tertawa
terbahak-bahak. Dan saat dimana, kita bercerita tentang idola kita hingga larut
malam. Jika boleh jujur, aku menyukaimu, tuan. Aku menyukaimu! Tolong, jangan
tanya mengapa. Sebab, aku pun tak tahu. Namun, sikapmu hari ini sungguh
membuatku sedikit merasa sedih. Sikapmu terlalu dingin, hingga mengalahi
dinginnya cuaca dimusim penghujan ini. Kau boleh menertawaiku, setelah tahu
bahwa kau yang sedang aku maksud dalam tulisan ini. Kau boleh memilih menjauh
setelah tahu bahwa aku menyukaimu. Iya, kau bebas melakukan apapun yang
kau inginkan, tuan.
Malam semakin larut, kutahu kau sudah terlelap bersama
dengan rasa lelahmu. Bermimpi indahlah, tuan. Tentang impianmu, tentang wanita
pujaanmu atau tentang apapun, yang bisa membuat tidurmu nyaman. Sekali lagi,
kuharap kau tak membaca tulisan ini. Rasa kantuk dan rasa sedihlah yang
membuatku menulis ini, menulis tentangmu. Dan jauh dilubuk hatiku, harapanku
hanya ingin melihatmu selalu tersenyum disetiap hari-harimu. Sungguh, tuan!
Maafkan atas perasaan tak wajar ini. Maafkan karena pada akhirnya aku hanya memilih berpura-pura tidak menyukaimu dan memilih untuk bersikap dingin kepadamu. Bukan salahmu! Namun, semua kulakukan hanya karena tak ingin orang-orang tahu tentang perasaanku, juga dirimu. Tetaplah bersikap dingin terhadapku, agar aku juga bisa bersikap dingin terhadapmu. Agar aku juga terbiasa tersakiti oleh kedinginanmu dan akhirnya membuatku untuk memilih menyerah. Tetaplah seperti itu, tuan.
Maafkan atas perasaan tak wajar ini. Maafkan karena pada akhirnya aku hanya memilih berpura-pura tidak menyukaimu dan memilih untuk bersikap dingin kepadamu. Bukan salahmu! Namun, semua kulakukan hanya karena tak ingin orang-orang tahu tentang perasaanku, juga dirimu. Tetaplah bersikap dingin terhadapku, agar aku juga bisa bersikap dingin terhadapmu. Agar aku juga terbiasa tersakiti oleh kedinginanmu dan akhirnya membuatku untuk memilih menyerah. Tetaplah seperti itu, tuan.
Dan bersama perasaan yang melelahkan ini, aku pernah
berharap bisa menjadi sebuah kisah indah dalam hidupmu.--Walau sekejap.
--Dari seseorang, yang selalu memikirkanmu.
Selamat ulangtahun dariku, untuk diriku.
Untukku yang sesaat lagi bertambah usia.
Tak
ada kata yang mampu kuucapkan selain mengucapkan syukur atas pertambahan usiaku
ini. Waktu memang berputar begitu cepat dan tanpa terasa, aku sudah berada
dipenghujung usiaku yang ke-18 tahun. Sebuah usia yang cukup dewasa bagi setiap
remaja, juga bagiku. Pagi tadi, kutatap secara detail wajahku yang nampak
kekanak-kanakkan ini. Akankah pertambahan usia akan merubah wajahku? Akankah
pertambahan usia akan merubah sikapku? Akankah? Ah, entahlah! Itu urusan Allah.
Yang terpenting hari ini adalah aku harus merasa bahagia menyambut usia baruku,
19 tahun.
Diusia
yang baru nanti, aku tak mengharapkan apa-apa dari orang-orang yang mengaku
menyayangiku atau mereka yang mengaku peduli kepadaku. Sedikitpun tidak!
Aku hanya berharap, semoga Allah mau berbaik hati mengabulkan segala doa-doaku
yang sampai hari ini, kurasa belum terkabulkan.-Semoga.
Soal
masalah cinta? Ah, kalo soal itu aku tak mau terlalu terburu-buru. Biarlah
waktu yang akan menjawabnya. Meskipun, diam-diam hatiku telah tertaut kepada
seorang lelaki pendiam yang selalu menjadi penyemangat hidupku akhir-akhir ini.
Tapi semua kembali lagi kepadaNya. Hatiku boleh saja menjatuh cintai
ciptaanNya, namun ketentuanNya tak dapat kutebak. Bisa saja Dia mengizinkanku
bersanding bersama lelaki yang kucintai, dan bisa pula tidak. Entahlah.
Malam
ini, aku tak boleh membuang waktuku begitu saja, barang sedetik. Kusiapkan
sejuta pengharapan untuk hari esokku, hari ulangtahunku. Semoga, semoga, dan
semoga. Ah, iya.-Semoga.
Jam
menunjukkan tepat di angka 12 kurang 5 menit. Haruskah ku menyanyikan lagu
selamat ulangtahun yang menandakan aku telah bertambah usia? Haruskah kutiup
lilin berangka yang menunjukkan aku telah bertambah usia? Ah, kupikir semua itu
tak harus kulakukan. Untuk apa? Bukankah, usia tetap akan bertambah meski tanpa
melakukan ritual menyanyikan lagu ulangtahun ataupun meniupkan lilin berangka
usia baru. Iya, kurasa itu semua tak perlu kulakukan. Yang harus kulakukan saat
ini adalah bersyukur dan-Tidur!
Hari
esok telah menantiku. Waktuku tidak hanya untuk saat ini saja, saat pergantian
usiaku. Masih ada hari esok, esok, dan esoknya lagi. Lagipula, besok ada kuliah
pagi yang telah menantiku dan tentu aku harus datang. Bukan hanya karena aku
sebagai seorang mahasiswi, tapi juga karena aku sebagai seorang pengagum
rahasia yang harus selalu mengawasinya.-Pujaan hatiku.
Tanpa
terasa, sudah lebih 10 menit dari angka 12. Tidak kurasakan perubahan apa-apa
pada diriku.-Saat ini. Mungkin karena efek kurang tidur, atau mungkin
juga karena aku terlalu lelah hari ini. Iya, mungkin saja.
Untukku
yang baru saja berulangtahun. Kudoakan semoga selalu disertai kebahagiaan dan
segala pengharapan didengar dan dikabulkan oleh Sang Pencipta. Aamiin.
Sekali
lagi, Selamat ulangtahun dariku, untuk diriku. Keep be a strong girl.
Cintaku datang terlambat
Awalnya, kupikir
semuanya akan baik-baik saja setelah kau pergi. Namun, ternyata, dugaanku
salah. Sungguh salah! Kau yang kupikir tak berarti apa-apa dalam hidupku,
justru malah membuat hidupku menjadi tak karuan semenjak kepergianmu.
Aku selalu tak ingin
orang-orang tahu kalo kita pernah dekat, dan nyaris menjalin hubungan lebih
dari teman. Aku pun tak ingin menceritakan tentangmu kepada teman-temanku atau kepada
siapa saja. Aku hanya ingin terus merahasiakan tentangmu, juga tentang
kedekatan kita dulu.
Perkenalan singkat
kita, seminggu yang lalu. Masih ingatkah dirimu denganku? Dengan gadis yang
pernah berhasil menyita perhatianmu. Dengan gadis yang berulang kali
mengabaikan perasaanmu? Masih ingatkah? Ah, iya. Aku tahu, kamu pasti sudah
lupa. Tak apalah. Aku tahu, kamu pasti sangat kecewa dengan penolakanku dulu. Penolakan
yang berulang yang kulakukan kepadamu, hingga akhirnya kau memilih menyerah dan
lalu pergi dari kehidupanku. Aku akan selalu ingat itu. Bahkan untuk sampai
kapan pun. Tapi percayalah, setelah kepergianmu, ada rasa penyesalan yang
bersarang dalam hatiku. Sungguh, aku tak bohong!
Kamu seorang pria yang
mahir dalam memainkan gitar, seorang pria yang memiliki suara merdu. Seorang pria
yang usianya berbeda setahun denganku. Seorang pria yang memiliki senyum manis
yang mampu memukau setiap wanita yang melihat. Seorang pria yang perhatian. Seorang
pria yang selalu berjuang untuk mendapatkan apa diingankan. Seorang pria yang
tahu mencintai dengan tulus. Seorang pria yang berhasil menyita perhatianku. Kamu,
iya kamu!
Dulu, Seminggu yang lalu,
saat kita masih saling memberi perhatian satu sama lain. Saat kau tak
henti-hentinya menunjukkan rasa cintamu kepadaku. Saat semuanya masih baik-baik
saja. Saat akhirnya kau memilih pergi. Saat akhirnya, aku merasakan penyesalan
dan mengharapkan kepulanganmu. Maafkan aku! Aku tahu, aku egois. Aku hanya
menginginkan perhatianmu, tidak lebih. Dan setelah kepergianmu, hatiku mulai
merasakan kekosongan. Saat kau berhasil membuatku jatuh cinta lagi, kau malah
pergi dan menghilang. Membuat hatiku patah hati. Kuakui, semua memang salahku. Perasaan
yang tidak pernah kurencanakan ini, tiba-tiba saja hadir dan mengisi ruang kosong
dihatiku. Dan semua itu pasti karenamu. Sekali lagi, maafkan atas pengabaianku
dulu. Maafkan, untuk perasaanku yang akhirnya mencintaimu ketika kau telah
memilih menyerah. Maafkan jika akhirnya aku malah merindukanmu dan berharap kau
kembali datang menawarkan cintamu. Maafkan. :”)
Semoga
kelak, kau akan datang lagi dihidupku dan
menawarkan cintamu lagi.-Semoga, semoga, dan semoga saja. Kini, kusadari, cintaku
datang terlambat. :”)
29 Oktober 2014
"Aku
Merindukanmu"
Oleh:
Novianti Bakri
Seperti biasa, malam ini saat aku tengah melanjutkan
kisah dari tulisanku yang sudah memenuhi layar kacaku, lalu tanpa sengaja aku
memikirkanmu. Sungguh! Aku memang tak sengaja memikirkanmu. Tiba-tiba saja,
saat rasa kantuk menghampiriku, dan bayanganmu datang begitu saja menghampiriku.
Seakan-akan, ingin mengingatkan aku padamu. Juga akan kenangan saat kita
bersama dulu. Ah, berbicara soal kenangan kita, memang tidak bisa aku lupakan. Aku
selalu ingat, dan akan selalu ingat. Kuharap kau tak marah saat tahu aku masih
saja selalu merindukanmu. Tolong, jangan marah. Ini hanyalah perasaan manusiawi
yang semua orangpun pasti pernah merasakannya. Lagipula, tak salahkan jika aku
merindukanmu?-Mantan kekasihku.
Sudah setahun lamanya sejak kita berpisah. Dan selama
itu, tak ada komunikasi lagi diantara kita. Tapi diantara rasa kantuk ini,
detik ini, aku sangat merindukanmu.-Sangat. Percayalah! Masih ingatkah kau
padaku? Gadis kecil yang dulu selalu mencuri perhatianmu. Gadis kecil yang dulu
selalu berjuang untukmu? Ingatkah? Aku tahu, kau mungkin sudah lupa. Ah, kau
memang pikun. Masih saja seperti dulu. Bagaimana mungkin kau bisa semudah itu
melupakanku, melupakan gadis kecil yang dulu pernah kau beri ruang special
dalam hatimu. Kuharap kau tidak membaca tulisanku ini. Karena aku yakin, jika
kau membacanya, kau mungkin memandangku sebagai gadis bodoh! Kau mungkin akan
menertawakanku. Kau mungkin akan mencemohku. Ah, sudahlah. Terserah dirimu
saja. Kau bebas menilaiku!
Setahun yang lalu, kisah kita pun berakhir. Dunia yang
tadinya indah kurasakan, mendadak suram karena perpisahan kita. Perpisahan yang
cukup membuatku trauma untuk jatuh cinta lagi dan membuatku takut untuk
menjalin hubungan asmara lagi.-Sampai sekarang. Memang banyak yang meminta
hatiku, tapi seperti biasa. Aku masih saja terdiam dan tak memberi jawaban
kepada pemilik hati yang meminta untuk menjaga hatiku. Meski aku tahu, diantara
pemilik hati itu, ada yang benar-benar tulus untuk menjaga hatiku. Tapi tetap
saja, aku mengabaikannya. Pengabaian yang berulang-ulang selalu kulakukan
kepada pemilik hati yang sama. Tolong, jangan tanya mengapa! Jawabannya sudah
pasti karena dirimu. Kau masih tanya mengapa? Ah, kau ini. Tentu saja, karena
aku masih mencintaimu.-Masih.
Setahun yang lalu, aku memutuskan untuk pergi. Iya,
aku tahu aku jahat. Aku tahu aku bodoh. tapi tolong, dengarlah penjelasanku. Ada
alasan yang membuatku harus pergi dan mengakhiri hubungan kita. Bukan karena
aku tidak sayang lagi. Bukan karena aku tidak setia. Bukan! Tolong percayalah,
ada hal yang tidak bisa aku ceritakan. Tolong jangan berpikiran aneh-aneh
tentang diriku dan tolong jangan lagi memakiku seperti itu. Jangan! Kutahu kau
marah. Kutahu kau benci. Tapi sekali lagi, percayalah. Alasan kepergianku bukan
karena ada yang lain. Bukan! Dan untuk saat ini, aku belum bisa menceritakannya
padamu. Kuharap kau mau mengerti. Tapi aku janji, suatu saat nati, akan
kuceritakan padamu. Iya, aku berjanji! Dan aku mohon padamu, berhentilah memakiku,
berhentilah membenciku. Bisakan? Sekali lagi, kumohon.-Berhentilah!
Setahun yang lalu telah berlalu, berbedakah dirimu
yang sekarang dengan dirimu yang setahun yang lalu? Semoga saja tidak. Karena aku
benci perubahan. Dan kuharap, kau masih seperti dulu. Tidak berubah sama
sekali. Termasuk soal perasaanmu padaku.
Setahun yang lalu telah berlalu, dan aku berhasil
kulewatinya seorang diri. Sama seperti dirimu. Aku masih dengan aku yang dulu. Entah
denganmu. Tapi apapun itu, aku akan tetap disini. Menunggumu dan menunggumu. Meskipun
akhirnya, kau akan memilih yang lain dan malah menunggu yang lain. Aku tidak
peduli. Aku akan tetap menunggu dan berharap agar kelak bisa bertemu denganmu
lagi. Walau hanya sebatas mengucapkan kata rinduku. Segeralah pulang menemuiku.
Aku merindukanmu.-Sangat.
Dari seorang gadis kecil yang dulu dihatimu.
Langganan:
Postingan (Atom)