Ada yang berbeda dengan dirimu hari ini. Entah apa. Pagi
tadi, aku melihatmu berjalan didepan kelasku. Dan kau hanya terdiam melihatku.
Tak menyapaku sedikit pun. Dan tak tersenyum sedikit pun. Tingkahmu
memang aneh! Sangat jauh berbeda dengan kamu yang selalu menyapaku melalui
pesan singkat di BBM.
Kau tahu? Akhir-akhir ini, aku sering memikirkanmu. Aku
sering membawa namamu dalam setiap doaku. Dan aku selalu berharap, semoga kita
selalu bertemu dikampus. Iya, akhir-akhir ini, aku memang merasa aneh dengan
diriku sendiri. Namun, dirimu tak kalah anehnya dengan diriku.
Aku mengenalmu, enam bulan yang lalu. Kau adalah pria yang
sangat pendiam dan acuh dengan segala yang ada disekitarmu. Termasuk denganku,
dengan gadis yang diam-diam mengagumimu. Aku bahkan sering mencuri
perhatianmu. Bertanya seolah aku tidak mengerti dengan cara pengerjaan soal
Bahasa Inggris, atau apapun yang bisa membuatmu melihatku dan menyita
waktumu.--Walau sekejap.
Kau tahu? Setiap malam aku selalu menunda tidurku hanya
untuk bisa mengobrol lebih lama denganmu. Kantuk yang kurasa bahkan tak mampu
membuatku menyerah dan tak mampu membuatku memilih untuk tidur. Semua kulakukan
demi dirimu, tuan! Semua demi kamu, seseorang yang akhirnya berhasil menyita
perhatiaanku. Kuharap kau tak membaca tulisanku ini. Aku takut, kau akan tahu
tentang perasaan dihatiku ini. Lalu, kau akan pergi menjauhiku. Aku takut!
Hari ini, kau terlihat berbeda. Tidak seperti hari-hari
kemarin. Saat dimana, pesan singkatmu berhasil membuatku tertawa
terbahak-bahak. Dan saat dimana, kita bercerita tentang idola kita hingga larut
malam. Jika boleh jujur, aku menyukaimu, tuan. Aku menyukaimu! Tolong, jangan
tanya mengapa. Sebab, aku pun tak tahu. Namun, sikapmu hari ini sungguh
membuatku sedikit merasa sedih. Sikapmu terlalu dingin, hingga mengalahi
dinginnya cuaca dimusim penghujan ini. Kau boleh menertawaiku, setelah tahu
bahwa kau yang sedang aku maksud dalam tulisan ini. Kau boleh memilih menjauh
setelah tahu bahwa aku menyukaimu. Iya, kau bebas melakukan apapun yang
kau inginkan, tuan.
Malam semakin larut, kutahu kau sudah terlelap bersama
dengan rasa lelahmu. Bermimpi indahlah, tuan. Tentang impianmu, tentang wanita
pujaanmu atau tentang apapun, yang bisa membuat tidurmu nyaman. Sekali lagi,
kuharap kau tak membaca tulisan ini. Rasa kantuk dan rasa sedihlah yang
membuatku menulis ini, menulis tentangmu. Dan jauh dilubuk hatiku, harapanku
hanya ingin melihatmu selalu tersenyum disetiap hari-harimu. Sungguh, tuan!
Maafkan atas perasaan tak wajar ini. Maafkan karena pada akhirnya aku hanya memilih berpura-pura tidak menyukaimu dan memilih untuk bersikap dingin kepadamu. Bukan salahmu! Namun, semua kulakukan hanya karena tak ingin orang-orang tahu tentang perasaanku, juga dirimu. Tetaplah bersikap dingin terhadapku, agar aku juga bisa bersikap dingin terhadapmu. Agar aku juga terbiasa tersakiti oleh kedinginanmu dan akhirnya membuatku untuk memilih menyerah. Tetaplah seperti itu, tuan.
Maafkan atas perasaan tak wajar ini. Maafkan karena pada akhirnya aku hanya memilih berpura-pura tidak menyukaimu dan memilih untuk bersikap dingin kepadamu. Bukan salahmu! Namun, semua kulakukan hanya karena tak ingin orang-orang tahu tentang perasaanku, juga dirimu. Tetaplah bersikap dingin terhadapku, agar aku juga bisa bersikap dingin terhadapmu. Agar aku juga terbiasa tersakiti oleh kedinginanmu dan akhirnya membuatku untuk memilih menyerah. Tetaplah seperti itu, tuan.
Dan bersama perasaan yang melelahkan ini, aku pernah
berharap bisa menjadi sebuah kisah indah dalam hidupmu.--Walau sekejap.
--Dari seseorang, yang selalu memikirkanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar